
Senin, 03 September 2007
Sabtu, 01 September 2007
lagi2 tanya pantes pa gag??
terimakasih atas segalanya. mungkin aku akan pergi selamanya tanpa pamit secara langsung pada kalian. aku tak ingin membuat orang lain terlalu memikirkanku. bukan, aku bukan terlalu percaya diri, tapi aku hanya ingin menghilang tanpa kalian sadari. bayangkanlah ini sebagai perminataan maafku. jika kalian marah padaku karena aku tak memberikan salam terakhir pada kalian, anggaplah ini salam terakhir dariku. lalu jika kalian menyalahkan diri kalian karena kepergianku, anggaplah aku yang bersalah, karna aku memang selalu salah. aku tak peduli lagi kata kalian. aku menangis sekarang, meronta, memikirkan kembali keputusanku, tapi kurasa, ini keputusanku.
kalian mungkin akan bertanya, untuk apa aku pergi. maka akan ku jawab, karena ini takdirku, sudah saatnya aku pergi dari dunia ini, menuju hidup yang kuharap lebih baik. jangan kau sesali kepergianku, karena setitik penyesalan akan membutakanmu akan kenyataan yang tersamarkan. jangan juga kau berpikir kemana aku akan pergi, karena arah langkah kakiku dan kemampuanku hidup kan membawaku ke arah yang jauh dan tak kan ada yang tahu. sebenarnya apa tujuanku?? aku pun tak mengerti, hanya saja hatiku mengatakan aku harus pergi.
aku memang pengecut. aku akui aku memang menghindar dari kenyataan. aku terlalu takut untuk menyadari kenyataan. aku terlalu bodoh untuk mencerna kenyataan. aku terlalu naif untuk menerima kenyataan. andai ada hal yang tak nyata di dunia ini, aku akan kesana.
mungkin besok aku sudah berada dalam perjalanku. di tempat yang ramai akan teriakan mereka dan tempat yang terlalu mengerikan untuk kau bayangkan, tapi aku yakin, suatu saat nanti akau akan diberi kesempatan untuk berkunjung dalam taman yang tenang, penuh tawa dan kebahagiaan. tempat itulah yang ku tuju, jauh memang, tapi aku yakin aku akan berhasil mencapainya. sekali lagi kuucapkan terimakasih kawan...
aku meneteskan air mata setelah untuk kesekian kalinya kubaca lagi surat yang kutulis. kembali aku teringat akan kenangan yang menguatkanku untuk segera menarik pelatuk yang pelurunya sudah siap menembus kepalaku. saat itu aku terduduk di sebuah bangku taman. aku sedang menanti dia, kawanku yang kupercaya dan selalu memberiku informasi terntang pria yang kusayang saat itu. kawanku mengatakan, ada banyak hal yang semu di dunia ini. kemudian ia mengatakan alasannya mengatakan itu. rupanya, seorang kawan telah bercerita padanya pula. kami sama, kami menyayangi orang yang sama. lalu kawanku mulai bercerita bagaimana buruk sebenarnya rupanya. kawanku megatakan, dia yang kusayang, adalah pembohong besar. pernah suatu hari, seorang kawan dibuat terbuai olehnya, sama dengan rayuan yang ia katakan padaku. aku tersontak dari kursi. aku katakan keraguanku pada kawanku. bukankan dia selalu baik pada kami? ia sekali lagi berkata, ada banyak hal semu di dunia ini. kawanku menawarkaku informasi yang lebih banyak, lalu dengan banyolanku ku katakan saj abahwa aku tak peduli akan hal itu, kami tertawa, tapi dalam tawa renyah kami, aku galau, aku resah memikirkan lagi keputusanku. aku sangsi akan segalanya sekarang.
sempat ku berpikir, kawanku hanya berbual dan mengatakan itu untuk kepentingannya, tapi kenapa?? bukankan ia kawanku yang seudah jelas kukenal?? aku tahu pasti tentang kawanku.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
dok...dok...
suara ketukan di pintu kamarku menyadarkanku dari lamunanku. segera ku sembunyikan surat dan pistolku. aku menghapus air mataku dan merapikan diriku. sempat kumelihat pada cermin di kamarku, lalu setelah aku yakin aku terlihat normal, aku membuka pintu. memang kamar kosku ini sering dijadikan tempat teman-temanku berkunjung.mereka sering menceritakan kesedihan mereka padaku. meraka berkata, aku cocok menjadi seorang psikolog karena banyak masalah yang bisa kubantu menyelesaikannya. Rupanya ** yang datang ke kosku sekarang. ** adalah wanita yang bisa dikatakan menarik, hanya saja ia kurang percaya diri, sehingga terkadang Ia harus meminta pendapatku untuk masalah pribadinya.
** berkata padaku bahwa ia merasa hidupnya sudah tak berguna lagi. ia baru saja dicampakan kekasihnya. aku berkata padanya bahwa di dunia ini tidah hanya ada satu pria. aku meyakinkannya bahwa suatu hari nanti pasti akan ada pengganti kekasihnya.
selama hampir satu jam kami berbincang, kemudian ia menghapus air mata terakhir yang menetes di wajahnya. aku mengantarnya sampai depan gerbang kosku. setelah melepas kepergiannya, lalu salah seorang wanita yang kukenal sebagai tetangga kosku sedang menangis. kuhampiri ia dan ku tanya ada apa. ia menjawab dengan tersenyum bahwa ia tidak apa-apa dan baru saja mengantarkan kepergian orangtuanya untuk kembali ke kampung halaman. saat itu aku tiba-tiba teringat pada keluargaku, dan aku pun mnyadari betapa ku merindukan mereka.
setelah aku kembali ke kamar, kurenungi lagi keputusanku. aku membaca surat ini berkali-kali. kemudian salah seorang tetangga kosku mengabarkanku tentang kedatangan seseorang, rupanya salah seorang temanku datang.
ia mulai bercerita padaku, ia sangat mendukungku untuk segera lebih dekat pada ia yang kusayang. lalu aku menceritakan yang tlah kudengar dari kawanku, tapi ia berkata bahwa dia yg ksyg adalah prang yang baik, aku menjadi ragu, sebenarnya siapa dia?? bagaimana dia yang sesungguhnya.
setelah temanku pergi, aku kembali ke dalam kamar. lagi-lagi aku bingung, aku berupaya berpikir lagi tentang kaputusanku. aku meletakkan tanganku di atas pelatuk, lalu aku mengarahkannya pada kepalaku. aku memejamkan mataku. tiba-tiba bayangan keluargaku, kawanku, temanku terlintas dalam pikiranku. aku membuka mataku lagi. meletakkan pistol ke atas kasurku. menangis sejadi-jadinya. aku penat... aku lelah.. benar-benar tak tahu apa yang terjadi, aku berlari ke luar. aku terus berlari tak mempedulikan keadaan sekitarku. aku berlari sekuat tenagaku, lalu yang terakhir kudengar adalah suara teriakkan orang-orang.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Bagusnya.. endingnya 'aku' mati pa idup..
kalo mati begini endingnya :
- lalu aku terbangun dan sadar aku tak lagi menapak. aku tak lagi nampak dan aku melihat badanku.. hancur! aku tersedu melihatnya. truk yang tadi sempat melindas tubuhku sudah pergi meninggalkan jejak darah. aku bersimpuh, memohon ampun pada-Nya.
badanku sudah terbaring kaku. ayah dan ibuku menangis di sebelah mayatku, tanpa mereka sadari.. akupun menangis diantara mereka. jiak ini akhirnya, kenapa tadi tidak kutarik saja pelatuknya? bukankah sama, aku juga akan terbaring seperti itu. dalam raunganku, lalu muncul suara yang mengatakan padaku bahwa ini adalah takdirku, dan ini jauh lebih baik daripada jika keputusanku untuk menarik pelatuk kulakukan.
tiga minggu dari kematianku, keluargaku mulai membereskan barang-barangku di kos. lalu, hal yang kutakutkan terjadi, ibuku menemukan pistol dan suratku. ibuku lalu menangis bersimpuh. ibuku berlutut dan menangis lebih keras dari sebelumnya. lalu setelah ayaku tahu perkara ini, ia berkata pada ibuku bahwa kecelakaan itu lebih baik daripada pistol ini yang menghilangkan nyawaku. aku tersenyum. mengetahiu bahwa kematianku karena kecelakaan ini lebih baik dari pada aku membunuh diriku dengan tanganku sendiri. terimakasih Tuhan atas takdirmu. kini misteri pun terkuak. aku mengetahui dengan pasti bahwa dia pun menyayangiku. tapi, ada wanita lain yang kini membantunya mengarungi hidupnya. aku bahagia...
nah, kalo akhirnya hidup..
- sesaat aku mengerjapkan mataku, meliaht kesekelilingku. bau ini sudah dapat dipastikan bau rumah sakit. aku meneteskan air mata, bersyukur pada-Nya karena aku telah diberi kesempatan untuk kembali menghirup udara di bumi ini dan juga karena telah menyadarkanku bahwa sebenarnya aku takut kematian.
ayah dan ibuku langsung menghampiriku mereka bersyukur akan kehidupanku. mereka menangis. meraka memberitahuku bahwa aku sudah tertidur selama tiga hari. mereka juga menceritakan kejadian itu dengan pasti. saat sebuah truk meyerempetku, aku terpelanting. lalu ada seorang pria yang langsung berlari menyelamatkanku. dia yang membawaku ke rumah sakit, jika saja pria itu tak segera membawaku kesini, bisa saja aku telah tiada. saat ibuku mengatakan nama pria itu, aku tersontak! dia yang kusayang telah menyelamatkan hidupku.
setelah orang tuaku mengabarkan keadaanku, teman-temanku mulai berdatangan. mereka semua menghawatirkan aku. aku pun bahagia mengetahui banyak orang yang peduli padaku.
sore hari, saat matahari mulai terbenam, dia yg ksyg datang menjengukku. tapi dia tak sendiri. dengan erat dia menggenggem tangan sorang wanita, aku yakin bahwa wanita itu adalah kekasihnya. benar saja, lalu dia memperkenalkan gadis itu padaku. entah mengapa aku bahagia. aku sangat bahagia meliat mereka seperti ini. aku rasa gadis ini lah yang terbaik baginya.
akhirnya, setelah keadaanku pulih, aku diperbolehkan pulang. untung saja orang tuaku belum masuk ke dalam kamar kosku.
kini aku berdiri di pinggir sebuah sungai. aku merobek-robek surat yang pernah kutulis waktu itu. pistol yang hampir menghilangkan nyawaku juga telah kurusak. lalu aku melemparkannya dalam arus sungai yang deras. aku melihatnya sampai akhirnya tak terlihat lagi. aku tersenyum dan aku yakin aku siap menghadapi hidup ini jauh lebih baik sebelumnya. terimakasih Tuhan..
------------------------------------------------------------------------------------------------
JADI??
tulisan ini kutulis sesuai dengan arus tanganku. sama sekali bukan dibuat-buat..
* aku pun tak mengerti *
apa yang kurang??
kalian mungkin akan bertanya, untuk apa aku pergi. maka akan ku jawab, karena ini takdirku, sudah saatnya aku pergi dari dunia ini, menuju hidup yang kuharap lebih baik. jangan kau sesali kepergianku, karena setitik penyesalan akan membutakanmu akan kenyataan yang tersamarkan. jangan juga kau berpikir kemana aku akan pergi, karena arah langkah kakiku dan kemampuanku hidup kan membawaku ke arah yang jauh dan tak kan ada yang tahu. sebenarnya apa tujuanku?? aku pun tak mengerti, hanya saja hatiku mengatakan aku harus pergi.
aku memang pengecut. aku akui aku memang menghindar dari kenyataan. aku terlalu takut untuk menyadari kenyataan. aku terlalu bodoh untuk mencerna kenyataan. aku terlalu naif untuk menerima kenyataan. andai ada hal yang tak nyata di dunia ini, aku akan kesana.
mungkin besok aku sudah berada dalam perjalanku. di tempat yang ramai akan teriakan mereka dan tempat yang terlalu mengerikan untuk kau bayangkan, tapi aku yakin, suatu saat nanti akau akan diberi kesempatan untuk berkunjung dalam taman yang tenang, penuh tawa dan kebahagiaan. tempat itulah yang ku tuju, jauh memang, tapi aku yakin aku akan berhasil mencapainya. sekali lagi kuucapkan terimakasih kawan...
aku meneteskan air mata setelah untuk kesekian kalinya kubaca lagi surat yang kutulis. kembali aku teringat akan kenangan yang menguatkanku untuk segera menarik pelatuk yang pelurunya sudah siap menembus kepalaku. saat itu aku terduduk di sebuah bangku taman. aku sedang menanti dia, kawanku yang kupercaya dan selalu memberiku informasi terntang pria yang kusayang saat itu. kawanku mengatakan, ada banyak hal yang semu di dunia ini. kemudian ia mengatakan alasannya mengatakan itu. rupanya, seorang kawan telah bercerita padanya pula. kami sama, kami menyayangi orang yang sama. lalu kawanku mulai bercerita bagaimana buruk sebenarnya rupanya. kawanku megatakan, dia yang kusayang, adalah pembohong besar. pernah suatu hari, seorang kawan dibuat terbuai olehnya, sama dengan rayuan yang ia katakan padaku. aku tersontak dari kursi. aku katakan keraguanku pada kawanku. bukankan dia selalu baik pada kami? ia sekali lagi berkata, ada banyak hal semu di dunia ini. kawanku menawarkaku informasi yang lebih banyak, lalu dengan banyolanku ku katakan saj abahwa aku tak peduli akan hal itu, kami tertawa, tapi dalam tawa renyah kami, aku galau, aku resah memikirkan lagi keputusanku. aku sangsi akan segalanya sekarang.
sempat ku berpikir, kawanku hanya berbual dan mengatakan itu untuk kepentingannya, tapi kenapa?? bukankan ia kawanku yang seudah jelas kukenal?? aku tahu pasti tentang kawanku.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
dok...dok...
suara ketukan di pintu kamarku menyadarkanku dari lamunanku. segera ku sembunyikan surat dan pistolku. aku menghapus air mataku dan merapikan diriku. sempat kumelihat pada cermin di kamarku, lalu setelah aku yakin aku terlihat normal, aku membuka pintu. memang kamar kosku ini sering dijadikan tempat teman-temanku berkunjung.mereka sering menceritakan kesedihan mereka padaku. meraka berkata, aku cocok menjadi seorang psikolog karena banyak masalah yang bisa kubantu menyelesaikannya. Rupanya ** yang datang ke kosku sekarang. ** adalah wanita yang bisa dikatakan menarik, hanya saja ia kurang percaya diri, sehingga terkadang Ia harus meminta pendapatku untuk masalah pribadinya.
** berkata padaku bahwa ia merasa hidupnya sudah tak berguna lagi. ia baru saja dicampakan kekasihnya. aku berkata padanya bahwa di dunia ini tidah hanya ada satu pria. aku meyakinkannya bahwa suatu hari nanti pasti akan ada pengganti kekasihnya.
selama hampir satu jam kami berbincang, kemudian ia menghapus air mata terakhir yang menetes di wajahnya. aku mengantarnya sampai depan gerbang kosku. setelah melepas kepergiannya, lalu salah seorang wanita yang kukenal sebagai tetangga kosku sedang menangis. kuhampiri ia dan ku tanya ada apa. ia menjawab dengan tersenyum bahwa ia tidak apa-apa dan baru saja mengantarkan kepergian orangtuanya untuk kembali ke kampung halaman. saat itu aku tiba-tiba teringat pada keluargaku, dan aku pun mnyadari betapa ku merindukan mereka.
setelah aku kembali ke kamar, kurenungi lagi keputusanku. aku membaca surat ini berkali-kali. kemudian salah seorang tetangga kosku mengabarkanku tentang kedatangan seseorang, rupanya salah seorang temanku datang.
ia mulai bercerita padaku, ia sangat mendukungku untuk segera lebih dekat pada ia yang kusayang. lalu aku menceritakan yang tlah kudengar dari kawanku, tapi ia berkata bahwa dia yg ksyg adalah prang yang baik, aku menjadi ragu, sebenarnya siapa dia?? bagaimana dia yang sesungguhnya.
setelah temanku pergi, aku kembali ke dalam kamar. lagi-lagi aku bingung, aku berupaya berpikir lagi tentang kaputusanku. aku meletakkan tanganku di atas pelatuk, lalu aku mengarahkannya pada kepalaku. aku memejamkan mataku. tiba-tiba bayangan keluargaku, kawanku, temanku terlintas dalam pikiranku. aku membuka mataku lagi. meletakkan pistol ke atas kasurku. menangis sejadi-jadinya. aku penat... aku lelah.. benar-benar tak tahu apa yang terjadi, aku berlari ke luar. aku terus berlari tak mempedulikan keadaan sekitarku. aku berlari sekuat tenagaku, lalu yang terakhir kudengar adalah suara teriakkan orang-orang.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Bagusnya.. endingnya 'aku' mati pa idup..
kalo mati begini endingnya :
- lalu aku terbangun dan sadar aku tak lagi menapak. aku tak lagi nampak dan aku melihat badanku.. hancur! aku tersedu melihatnya. truk yang tadi sempat melindas tubuhku sudah pergi meninggalkan jejak darah. aku bersimpuh, memohon ampun pada-Nya.
badanku sudah terbaring kaku. ayah dan ibuku menangis di sebelah mayatku, tanpa mereka sadari.. akupun menangis diantara mereka. jiak ini akhirnya, kenapa tadi tidak kutarik saja pelatuknya? bukankah sama, aku juga akan terbaring seperti itu. dalam raunganku, lalu muncul suara yang mengatakan padaku bahwa ini adalah takdirku, dan ini jauh lebih baik daripada jika keputusanku untuk menarik pelatuk kulakukan.
tiga minggu dari kematianku, keluargaku mulai membereskan barang-barangku di kos. lalu, hal yang kutakutkan terjadi, ibuku menemukan pistol dan suratku. ibuku lalu menangis bersimpuh. ibuku berlutut dan menangis lebih keras dari sebelumnya. lalu setelah ayaku tahu perkara ini, ia berkata pada ibuku bahwa kecelakaan itu lebih baik daripada pistol ini yang menghilangkan nyawaku. aku tersenyum. mengetahiu bahwa kematianku karena kecelakaan ini lebih baik dari pada aku membunuh diriku dengan tanganku sendiri. terimakasih Tuhan atas takdirmu. kini misteri pun terkuak. aku mengetahui dengan pasti bahwa dia pun menyayangiku. tapi, ada wanita lain yang kini membantunya mengarungi hidupnya. aku bahagia...
nah, kalo akhirnya hidup..
- sesaat aku mengerjapkan mataku, meliaht kesekelilingku. bau ini sudah dapat dipastikan bau rumah sakit. aku meneteskan air mata, bersyukur pada-Nya karena aku telah diberi kesempatan untuk kembali menghirup udara di bumi ini dan juga karena telah menyadarkanku bahwa sebenarnya aku takut kematian.
ayah dan ibuku langsung menghampiriku mereka bersyukur akan kehidupanku. mereka menangis. meraka memberitahuku bahwa aku sudah tertidur selama tiga hari. mereka juga menceritakan kejadian itu dengan pasti. saat sebuah truk meyerempetku, aku terpelanting. lalu ada seorang pria yang langsung berlari menyelamatkanku. dia yang membawaku ke rumah sakit, jika saja pria itu tak segera membawaku kesini, bisa saja aku telah tiada. saat ibuku mengatakan nama pria itu, aku tersontak! dia yang kusayang telah menyelamatkan hidupku.
setelah orang tuaku mengabarkan keadaanku, teman-temanku mulai berdatangan. mereka semua menghawatirkan aku. aku pun bahagia mengetahui banyak orang yang peduli padaku.
sore hari, saat matahari mulai terbenam, dia yg ksyg datang menjengukku. tapi dia tak sendiri. dengan erat dia menggenggem tangan sorang wanita, aku yakin bahwa wanita itu adalah kekasihnya. benar saja, lalu dia memperkenalkan gadis itu padaku. entah mengapa aku bahagia. aku sangat bahagia meliat mereka seperti ini. aku rasa gadis ini lah yang terbaik baginya.
akhirnya, setelah keadaanku pulih, aku diperbolehkan pulang. untung saja orang tuaku belum masuk ke dalam kamar kosku.
kini aku berdiri di pinggir sebuah sungai. aku merobek-robek surat yang pernah kutulis waktu itu. pistol yang hampir menghilangkan nyawaku juga telah kurusak. lalu aku melemparkannya dalam arus sungai yang deras. aku melihatnya sampai akhirnya tak terlihat lagi. aku tersenyum dan aku yakin aku siap menghadapi hidup ini jauh lebih baik sebelumnya. terimakasih Tuhan..
------------------------------------------------------------------------------------------------
JADI??
tulisan ini kutulis sesuai dengan arus tanganku. sama sekali bukan dibuat-buat..
* aku pun tak mengerti *
apa yang kurang??
Kamis, 30 Agustus 2007
Medh... crbh!!
Hal paling ga pengen diulang lagi sama Medh...
- Kehabisan bensin... ( bulan Agustus ini udah 2X )
- Ngilangin barang2.. ( salah satu Harpotnya Zahra )
- Ketinggalan barang penting.. ( kunci UKS, buku, dompet, dll )
- Suka stres sendiri.. ( waduh,, udah sindrom e.. can’t work under press )
- Uring2ngan ga jelas.. ( kata orang, salahkan pms,, walaupun ga salah )
- Sok banget.. ( Cuma ngerasa sok tau aja )
- Bisa kehilangan akal sehat kalo lagi gila!! ( sperti melajukan motor sampe motornya bunyi tek-tek-tek..)
- Menjadi bodoh..( kalo emang dasar e,, njuk piye )
- Suka tiba2 kangen sama mreka ( Isma, Bayu, kawan2 di Bogor, kucing2Q, Diia, teman2Q.. smuanya lah )
- Pengen mnangis karna mrasa sebal.. ( pada diri sendiri)
- Hopeless banget..( kalo lagi liat diia sama cwe laen)
Lalu2,, bagaimana caranya biar medh tak mengulaginya lagi???
- Kehabisan bensin... ( bulan Agustus ini udah 2X )
- Ngilangin barang2.. ( salah satu Harpotnya Zahra )
- Ketinggalan barang penting.. ( kunci UKS, buku, dompet, dll )
- Suka stres sendiri.. ( waduh,, udah sindrom e.. can’t work under press )
- Uring2ngan ga jelas.. ( kata orang, salahkan pms,, walaupun ga salah )
- Sok banget.. ( Cuma ngerasa sok tau aja )
- Bisa kehilangan akal sehat kalo lagi gila!! ( sperti melajukan motor sampe motornya bunyi tek-tek-tek..)
- Menjadi bodoh..( kalo emang dasar e,, njuk piye )
- Suka tiba2 kangen sama mreka ( Isma, Bayu, kawan2 di Bogor, kucing2Q, Diia, teman2Q.. smuanya lah )
- Pengen mnangis karna mrasa sebal.. ( pada diri sendiri)
- Hopeless banget..( kalo lagi liat diia sama cwe laen)
Lalu2,, bagaimana caranya biar medh tak mengulaginya lagi???
Inspirasi...kemana kaw pergi???
Jangan berpikir aku mengidap sindrom narsis seperti yang dialami beberapa remaja lainnya. Aku hanya ingin membagi pengalamanku pada kalian. Aku adalah siswa di sebuah SMA Negeri di Jogja. Denagn pengalamanku aku berhasil belajar hidup dengan baik di sekolahku. Mengapa aku berkata demikian? Aku telah mengalami banyak hal dalam hidupku sehingga membuatku berubah.
Aku sedang berjalan di lorong sekolah ketika sahabatku, Andin memanggilku.
“ Ila...tungguin donk.”
“ Buruan...” Andin lalu berlari menghampiriku,” kenapa sih?”
“ Nggak papa, cuma mau bareng aja,” kata Andin, masih dengan napas yang tersengal.
“ Oh, kirain ada apaan.”
“ Eh iya, kamu ikut panitia gelar seni kan?” tanya Andin.
“ Ikut, emang kenapa??”
“ Nggak papa, tanya doank.”
Lalu,, apa selanjutnya??
Medh kehilangan inspirasi...
Aku sedang berjalan di lorong sekolah ketika sahabatku, Andin memanggilku.
“ Ila...tungguin donk.”
“ Buruan...” Andin lalu berlari menghampiriku,” kenapa sih?”
“ Nggak papa, cuma mau bareng aja,” kata Andin, masih dengan napas yang tersengal.
“ Oh, kirain ada apaan.”
“ Eh iya, kamu ikut panitia gelar seni kan?” tanya Andin.
“ Ikut, emang kenapa??”
“ Nggak papa, tanya doank.”
Lalu,, apa selanjutnya??
Medh kehilangan inspirasi...
Pantes Ga???
Sebuah lukisan tergeletak di pinggir sungai, basah, tetapi tidak rusak. Lukisan seekor anjing yang terlihat galak, tetapi sangat artistic. Kubawa lukisan itu pulang. Aku sama sekali tidak menyangka nasibku akan berbeda setelah membawa lukisan ini.
Tidak jauh rumahku dari pinggir Sungai Ciliwung. Daerah ini memang sudah terkenal kumuh. Aku sendiri hanya orang bisu yang tidak berguna. Aku bisu sejak dilahirkan. Lucu sekali, aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku. Kata orang dari panti asuhan yang dulu merawatku, aku terbawa arus sungai saat hujan deras.
Sekarang aku sudah dewasa. 23 tahun, sudah cukup dewasa untuk menukah, tapi aku yang hanya lulusan SMALB tidak pernah berani mendekati wanita. Walaupun aku adalah lulusan terbeik dan kata mereka aku tak kalah pintar dengan orang normal, aku tetap tidak berani untuk melamar pekerjaan. Bagaimana bisa, apa yang akan kukatakan saat aku tes wawancara. Sedih memang. Tapi kesedihan itu sudah menjadi makananku sehari-hari.
Sudah sampai aku di rumahku. Tumpukan kardus dan atap dari seng bekas inilah yang kusebut rumah. Kutaruh lukisan ini di dekat tempat tidurku, taksalah lagi, tempat tidurku juga tumpukan kardus yang kugunakan sebagai alas.
Tak sadar berapa lama aku melihat lukisan itu. Aku merasa semakin aku melihatnya, aku semakin suka dan sepertinya ada daya tarik yang tersimpan dibalik lukisan itu.
Lukisan dengan latar belakang berwarna putih dan dibalut dengan warna kebiru-biruan itu menggambarkan seekor anjing yang sedang marah dengan potongan tulang di dekat kakinya. Mungkin ini salah satu penyebab aku sangat tertarik dengan lukisan itu. Anjing itu juga tak suka diganggu apalagi saat sedang makan seperti itu. Aku tahu perasaan anjing itu. Aku juga terlalu sering dimaki karena aku mengambil makanan bekas yang sudah dibuang di tempat sampah. apa salahku? Aku hanya mengambil sesuatu yang sudah tak berguna bagi mereka.
Sudah larut rupanya. Aku tak punya jam, jadi aku hanya bisa memperkirakan waktu dari matahari. Suara adzan maghrib terdengar cukup keras di telingaku. Segera kusambar sarungku yang sudah sangat lusuh itu dan segera ke masjid di dekat rumahku. Aku mengambil air wudhu dan segera ikut shalat berjamaah dengan yang lainya. Di masjid inilah aku merasa sangat tenang, walau tak mewah seperti masjid Baiturrahman yang pernah kulihat di tv tetanggaku, aku sangat senang berada di tempat ini.
Selesai shalat, aku tidak pulang. Seperti biasa aku menunggu di masjid untuk mengikuti shalat Isya. Sesekali aku mengambil Al-Quran di masjid in iuntuk kubaca. Tapi kali ini aku ingin merenung tentang lukisan itu. Sebenarnya apa yang ada dibalik lukisan itu. Aku mengutarakan isi hatiku pada Sang Khalik. Saat aku sedang merenung tibe-tiba kulihat seeorang yang sedang bertanya kepada salah satu jamaah masjid. Aku tertarik mendekatinya karena sepertinya dia sangat kesusahan. Walalupun aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku ingin sekali membantunya.
Sekilas aku merasa dia terus memperhatikanku dengan tatapan mata yang cukup aneh, tapi saat kulihat tanganya membawa tongkat yang terbuat dati kayu aku menyadari bahwa dia memiliki kerusakan pada matanya.
” Pak, apa Bapak benar-benar tidak tahu ada lukisan yang hanyut,” katanya dengan suara yang bergetar.
” Maaf mas, saya benar-benar tidak tahu,” kata orang yang ditanyanya.
Spontan aku menyadari, lukisan yang kubawa itu miliknya. Bagaimana ini, aku ingin mengatakan kepadanya tetapi aku tidak bisa bersuara. Aku menepuk pundaknya dan dia memandangku. Aku mencoba menuliskan huruf isyarat di tanganya dan berhasil. Dia mengerti apa yang kutulis. Aku menulis ’ maaf, sepertinya saya tahu lukisan kamu’. Dia langsungmenjawab ” Benar itu mas? Terimakasih ya mas, bisa antar saya ke tempat lukisan saya?” tanyanya. Aku menulis lagi ’bisa’.
Selama perjalanan, dia bercerita banyak tentang dirinya. Rupanya dia mengidap penyakit mata yang sangat parah. Dia hampir buta, tapi masih bisa melihat, itupin dengan jarak yang sangat dekat. Maka dari itu aku pun mengerti bagaimana perasaanya saat tahu lukisanya hilang.
Aku juga bercerita tentang diriku. Aku banyak menulis ditanganya, kadang dia mengangguk arti mengerti. Entah mengapa aku merasa cocok denganya. Laki-laki ini sepertinya sebaya denganku. Saat aku menceritakan pengalaman saat sekolah, dia berkata padaku,” Jangan-jangan mas ini Mas Rizal ya?”
Aku kaget, bagaimana dia bisa mengetahui namaku. Saat itu dia tersenyum.
” Mas, saya juga bersekolah di SMALB tempat mas belajar. Saya sangat ingin bertemu dengan mas,” katanya. Sudah sampai rumah, aku mempersilakanya masuk. Didalam rumah aku bertanya padanya, mengapa dia ingin bertemu denganku.
” Maaf mas, saya lupa. Saya Arif, adik kelas mas. Waktu itu saya banyak mendengar tentang seorang laki-laki yang sangat cerdas. Mungkin mas satu-satunya murid yang dilepas oleh sekolah hanya dalm waktu tiga tahun, saya sendiri lima tahun beru bisa lulus,” katanya. Ada perasaan bangga dihatiku.
” Mas, saya itu sangat mengidolakan mas lho, bahkan lukisasn itu sebenarnya saya buat unutk mas. Maaf ya mas kalo mas tersinggung saya gambar dengan umpama anjing, tapi maksud saya sebenarnya adalah melukiskan perjuangan mas untuk melawan segala keterbatasan dan kekurangan. Dari lukisan itu dapat digambarkan bagaimana perjuangan mas untuk hidup. Saya sudah mendengar kisah mas. Dan saya sangat bangga atas perjuangan mas. Sejak lahir mas pun sudah berjuang dengan untuk bertahan hidup di sungai. Benar-benar mengagumkan,” katanya panjang lebar.
Aku menulis ’tidak, aku sama sekali tidak tersinggung, bahkan aku terharu karena ada orang yang mengagumiku’. Tak terasa ada sebutir air mata haru yang mengalir dari mataku.
” Rupanya lukisan ini telah smpai padamau, kalu begitu aku bahagia mas,” katanya.
Aku menulis banyak terimakasih padanya. Sejak saat itu, entah aku sadari atau tidak aku jadi mengaguminya.
” Oh ya mas, mas mau ga tinggal di rumah saya?” tanyanya. Perasaan senang sempat menghampiriku, tapi aku sudah terlanjur mandiri dan tidak ingin menyusahkanya. Aku menolaknya. Dari raut wajahnya aku bisa melihat kesedihanya.
” Mas, saya mohon,” katanya memohon. Tapi aku tetap menolak.
” Gini aja mas, kalo mas ga betah tinggal di rumah saya, mas bisa pergi, tapi tolong selama seminggu ini mau ya nginep di rumah saya,” katanya. Aku hendak menolak, tapi saat kulihat ketulusan di matanya, aku pun terenyuh. Aku menerima ajakannya.
Adzan Isya sudah terdengar, aku mengajaknya shalat, tapi ternyata dia non-Islam. Aku memintanya menunggu di masjid selama aku shalat. Selesai shalat aku membantunya membawa lukisan itu dan berjalan menuju rumahnya. Rupanya sudah ada mobil yang menunggu kami di depan gang yang menuju perkampunganku.
” Mari kak masuk,” kata Arif mempersilakanku masuk mobinya.
” Ayo pak berangkat,” kata Arif pada sopirnya.
” Iya mas,” jawab sopir iru padanya.
Di dalam perjalanan banyak sekali ceritanya padaku. Bagaimana dia pertama kali mengenalku. Bangga rasanya. Rupanya Arif mengenalku saat aku dipanggil untuk menerima trophy hasil kemenanganku pada lomba sains khusus SLB.
Masih tersimpan jelas di memoriku saat aku dipanggil maju dan menerima hadiah dari sekolah. Mungkin trophy itu masih ada di rak kepala sekolah saat ini.
Arif melanjutkan ceritanya. Bagaimana dia bisa sampai terinspirasi olehku hingga bisa menyelesaikan sebuah lukisan yang kutemukan tadi sore
dst,,dst,,
pantes ga ya kayak gini dikirim buat lomba cerpen???
Tidak jauh rumahku dari pinggir Sungai Ciliwung. Daerah ini memang sudah terkenal kumuh. Aku sendiri hanya orang bisu yang tidak berguna. Aku bisu sejak dilahirkan. Lucu sekali, aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku. Kata orang dari panti asuhan yang dulu merawatku, aku terbawa arus sungai saat hujan deras.
Sekarang aku sudah dewasa. 23 tahun, sudah cukup dewasa untuk menukah, tapi aku yang hanya lulusan SMALB tidak pernah berani mendekati wanita. Walaupun aku adalah lulusan terbeik dan kata mereka aku tak kalah pintar dengan orang normal, aku tetap tidak berani untuk melamar pekerjaan. Bagaimana bisa, apa yang akan kukatakan saat aku tes wawancara. Sedih memang. Tapi kesedihan itu sudah menjadi makananku sehari-hari.
Sudah sampai aku di rumahku. Tumpukan kardus dan atap dari seng bekas inilah yang kusebut rumah. Kutaruh lukisan ini di dekat tempat tidurku, taksalah lagi, tempat tidurku juga tumpukan kardus yang kugunakan sebagai alas.
Tak sadar berapa lama aku melihat lukisan itu. Aku merasa semakin aku melihatnya, aku semakin suka dan sepertinya ada daya tarik yang tersimpan dibalik lukisan itu.
Lukisan dengan latar belakang berwarna putih dan dibalut dengan warna kebiru-biruan itu menggambarkan seekor anjing yang sedang marah dengan potongan tulang di dekat kakinya. Mungkin ini salah satu penyebab aku sangat tertarik dengan lukisan itu. Anjing itu juga tak suka diganggu apalagi saat sedang makan seperti itu. Aku tahu perasaan anjing itu. Aku juga terlalu sering dimaki karena aku mengambil makanan bekas yang sudah dibuang di tempat sampah. apa salahku? Aku hanya mengambil sesuatu yang sudah tak berguna bagi mereka.
Sudah larut rupanya. Aku tak punya jam, jadi aku hanya bisa memperkirakan waktu dari matahari. Suara adzan maghrib terdengar cukup keras di telingaku. Segera kusambar sarungku yang sudah sangat lusuh itu dan segera ke masjid di dekat rumahku. Aku mengambil air wudhu dan segera ikut shalat berjamaah dengan yang lainya. Di masjid inilah aku merasa sangat tenang, walau tak mewah seperti masjid Baiturrahman yang pernah kulihat di tv tetanggaku, aku sangat senang berada di tempat ini.
Selesai shalat, aku tidak pulang. Seperti biasa aku menunggu di masjid untuk mengikuti shalat Isya. Sesekali aku mengambil Al-Quran di masjid in iuntuk kubaca. Tapi kali ini aku ingin merenung tentang lukisan itu. Sebenarnya apa yang ada dibalik lukisan itu. Aku mengutarakan isi hatiku pada Sang Khalik. Saat aku sedang merenung tibe-tiba kulihat seeorang yang sedang bertanya kepada salah satu jamaah masjid. Aku tertarik mendekatinya karena sepertinya dia sangat kesusahan. Walalupun aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku ingin sekali membantunya.
Sekilas aku merasa dia terus memperhatikanku dengan tatapan mata yang cukup aneh, tapi saat kulihat tanganya membawa tongkat yang terbuat dati kayu aku menyadari bahwa dia memiliki kerusakan pada matanya.
” Pak, apa Bapak benar-benar tidak tahu ada lukisan yang hanyut,” katanya dengan suara yang bergetar.
” Maaf mas, saya benar-benar tidak tahu,” kata orang yang ditanyanya.
Spontan aku menyadari, lukisan yang kubawa itu miliknya. Bagaimana ini, aku ingin mengatakan kepadanya tetapi aku tidak bisa bersuara. Aku menepuk pundaknya dan dia memandangku. Aku mencoba menuliskan huruf isyarat di tanganya dan berhasil. Dia mengerti apa yang kutulis. Aku menulis ’ maaf, sepertinya saya tahu lukisan kamu’. Dia langsungmenjawab ” Benar itu mas? Terimakasih ya mas, bisa antar saya ke tempat lukisan saya?” tanyanya. Aku menulis lagi ’bisa’.
Selama perjalanan, dia bercerita banyak tentang dirinya. Rupanya dia mengidap penyakit mata yang sangat parah. Dia hampir buta, tapi masih bisa melihat, itupin dengan jarak yang sangat dekat. Maka dari itu aku pun mengerti bagaimana perasaanya saat tahu lukisanya hilang.
Aku juga bercerita tentang diriku. Aku banyak menulis ditanganya, kadang dia mengangguk arti mengerti. Entah mengapa aku merasa cocok denganya. Laki-laki ini sepertinya sebaya denganku. Saat aku menceritakan pengalaman saat sekolah, dia berkata padaku,” Jangan-jangan mas ini Mas Rizal ya?”
Aku kaget, bagaimana dia bisa mengetahui namaku. Saat itu dia tersenyum.
” Mas, saya juga bersekolah di SMALB tempat mas belajar. Saya sangat ingin bertemu dengan mas,” katanya. Sudah sampai rumah, aku mempersilakanya masuk. Didalam rumah aku bertanya padanya, mengapa dia ingin bertemu denganku.
” Maaf mas, saya lupa. Saya Arif, adik kelas mas. Waktu itu saya banyak mendengar tentang seorang laki-laki yang sangat cerdas. Mungkin mas satu-satunya murid yang dilepas oleh sekolah hanya dalm waktu tiga tahun, saya sendiri lima tahun beru bisa lulus,” katanya. Ada perasaan bangga dihatiku.
” Mas, saya itu sangat mengidolakan mas lho, bahkan lukisasn itu sebenarnya saya buat unutk mas. Maaf ya mas kalo mas tersinggung saya gambar dengan umpama anjing, tapi maksud saya sebenarnya adalah melukiskan perjuangan mas untuk melawan segala keterbatasan dan kekurangan. Dari lukisan itu dapat digambarkan bagaimana perjuangan mas untuk hidup. Saya sudah mendengar kisah mas. Dan saya sangat bangga atas perjuangan mas. Sejak lahir mas pun sudah berjuang dengan untuk bertahan hidup di sungai. Benar-benar mengagumkan,” katanya panjang lebar.
Aku menulis ’tidak, aku sama sekali tidak tersinggung, bahkan aku terharu karena ada orang yang mengagumiku’. Tak terasa ada sebutir air mata haru yang mengalir dari mataku.
” Rupanya lukisan ini telah smpai padamau, kalu begitu aku bahagia mas,” katanya.
Aku menulis banyak terimakasih padanya. Sejak saat itu, entah aku sadari atau tidak aku jadi mengaguminya.
” Oh ya mas, mas mau ga tinggal di rumah saya?” tanyanya. Perasaan senang sempat menghampiriku, tapi aku sudah terlanjur mandiri dan tidak ingin menyusahkanya. Aku menolaknya. Dari raut wajahnya aku bisa melihat kesedihanya.
” Mas, saya mohon,” katanya memohon. Tapi aku tetap menolak.
” Gini aja mas, kalo mas ga betah tinggal di rumah saya, mas bisa pergi, tapi tolong selama seminggu ini mau ya nginep di rumah saya,” katanya. Aku hendak menolak, tapi saat kulihat ketulusan di matanya, aku pun terenyuh. Aku menerima ajakannya.
Adzan Isya sudah terdengar, aku mengajaknya shalat, tapi ternyata dia non-Islam. Aku memintanya menunggu di masjid selama aku shalat. Selesai shalat aku membantunya membawa lukisan itu dan berjalan menuju rumahnya. Rupanya sudah ada mobil yang menunggu kami di depan gang yang menuju perkampunganku.
” Mari kak masuk,” kata Arif mempersilakanku masuk mobinya.
” Ayo pak berangkat,” kata Arif pada sopirnya.
” Iya mas,” jawab sopir iru padanya.
Di dalam perjalanan banyak sekali ceritanya padaku. Bagaimana dia pertama kali mengenalku. Bangga rasanya. Rupanya Arif mengenalku saat aku dipanggil untuk menerima trophy hasil kemenanganku pada lomba sains khusus SLB.
Masih tersimpan jelas di memoriku saat aku dipanggil maju dan menerima hadiah dari sekolah. Mungkin trophy itu masih ada di rak kepala sekolah saat ini.
Arif melanjutkan ceritanya. Bagaimana dia bisa sampai terinspirasi olehku hingga bisa menyelesaikan sebuah lukisan yang kutemukan tadi sore
dst,,dst,,
pantes ga ya kayak gini dikirim buat lomba cerpen???
Minggu, 26 Agustus 2007
umphhhhh!!!1
rasanya sekarang semua emosiku lagi kumpul di otak!!
panas gila,,
umph.................
medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.
panas gila,,
umph.................
medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.medehnk bodoh.medhenk bodoh.medhenk bodoh.
Langganan:
Postingan (Atom)