Selasa, 04 September 2007
maaf atas sgalanya
aku memang bodoh..
maaf..
semua salahku..
sempat ku tak bisa berpikir tadi..
sempat aku tak sadar akan segalanya..
ini aku..
kuberharap ..
kalian bisa menerimaku apa adanya..
tak ingin ku membenci..
tak ingin pula ku membenci..
maaf..
maaf..
*aku memang anak kecil yang terlalu labil untuk mengerti kenyataan*
maaf kalo hari ini medh menyebalkan
bikin kalian bingung sama sikap medh
buat kalian sebal pada medh
maaf........
medh emang sok!!
sok penting banget!!
jujur,, aku ga ngerti apa yang terjadi hari ini..
nggak berniat nggak senyum sama kalian..
tapi terlalu berat memang untuk membohongi di sendiri..
kalo medh kayak gini lagi..
medh janji,, bakal nyimpen dalem semuanya..
sampai nggak tecium bau dan ga keliatan jejaknya sama kalian..
sperti slama ini..
biar medh yang tanggung kebodohan medh sendiri..
mulai besok medh janji!!
bakal kasih kalian d best smile..
kayak dulu..
* senyum stiap saat!!*
sesuatu mengatakan aku harus menulis ini
Brmm…brmm…
Suara motor besar terus menderu di BRC. Dua motor sudah siap di garis putih bertuliskan start. Seorang pria mengibarkan bendera tanda dimulai. Dua motor pun melaju. Penonton hanya bisa melihat dari jauh, berharap tak ada polisi atau jalan ramai dini hari seperti ini.
Tikungan awal dilalui dengan mulus oleh kedua pembalap. Lalu saat tikungan kedua, seorang pembalap dengan motor birunya berhasil mendahului seorang pengendara mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Para anggota tim sudah khawatir. Sedangkan di kubu pembalap dengan motor ungu gelap berharap kawannya akan berhasil memenangkan balap kali ini.
Sudah hampir setengah perjalanan. Dari tempat berkumpul yang terlihat kini hanya setitik cahaya. Untung saja ini di jalan raya, sehingga tak tertutup oleh pepohonan. Dari cahayanya, dapat dilihat salah satu motor berhasil mendahului lawannya. Posisi masih terus bertahan hingga tikungan terakhir. Sebuah kerikil hampir saja membuat salah satu pembalap tergelincir, tetapi akubatnya lawannya kini memimpin.
Jarak tinggal seratus meter lagi, dengan kecepatan seperti itu, bahkan jarak seratus meter dapat dilalui kurang dari lima detik. Kemudian, kedua motor berhasil kembali ke kubu masing-masing dengan selamat.
“ Yes!! Kita menang lagi. Loe hebat!!” kubu pemenang bersorak kegirangan, dengan ini rekor kemenangan mereka belum terpecahkan.
“ Ye… duit kita nambah lagi men.” Salah seorang dari kubu pemenang mengipas-ngipaskan uang seratus ribu dengan jumlah cukup banyak di tangannya.
“ Men?? Liat dulu donk yang balap!!” sang pembalap membuka kaca helmnya. Dia menepuk bahu Doni, temannya yang tadi memegang uang.
“ Aduh!! Mir, dimana-mana tu ya, kalo beginian ngomongnya men, kagak ada yang ladies,” protes Doni pada Mira, sang pembalap. Jangan heran, Mira memang sang pembalap. Satu-satunya pembalap cewek di Black Race Circuit. Sudah setahun terakhir ini Mira menjadi pembalap andalan di Geng Liquid Racer. Belum pernah Mira berhasil di kalahkan.
Tawa masih terdengar di kubu LR, lalu pembalap dari kubu lawan mendekat, menjabat tangan Mira.
“ Selamet ya. Gue masih belum percaya loe cewek,” kata Reza. Lalu Mira turun dari motor ungunya dan membalas jabat tangan Reza.
“ Percaya deh…” Mira membuka helmnya dan terurai lah rambut panjang Mira. Mira tersenyum, dan pergi begitu saja.
Mira membuka jaket yang dikenakannya untuk balapan malam ini. Lalu bergegas menuju mobil yang diparkir di ujung BRC. Mira memang pemilik motor ungu yang digunakannya tadi, tapi motor itu akan disimpan anak-anak RC di markas. Mira segera melempar helm dan jaketnya ke dalam mobil, lalu Mira menstater mobilnya dan dengan segera menginjak gas.
Lima belas menit kemudian, sampailah Mira di sebuah rumah berpagar coklat tinggi. Dengan perlahan Mira mengendap dan membuka gembok pagar. Tanpa suara Mira memasukkan mobilnya ke garasi.
“ Waduh Non Mira, saya kira siapa.” Suara Mang Usep, satpam Mira berhasil membuat Mira kaget setengah mati.
“ Eh!! Aduh, Mang Usep, jangan ngagetin saya donk. Jantung saya mau copot kan!” omel Mira.
“ Yah elah Non, saya juag jantungan ngeliat orang ngendap-endap masuk rumah,” mang Udin berkilah.
“ Ya udah deh Mang, saya masuk dulu ya…” Mira lalu bergegas menaiki tangga menuju balkon kamarnya.
Selamat bagi Mira, selama setahun Mira berhasil kabur dari orang tuanya, dan satu-satunya yang mengetahui rahasia Mira di rumah adalah Mang Usep.
Mira segera mengganti pakaiannya. Mira lalu mencuci mukanya. Mira lalu meyibakkan selimut di kasurnya dan segera melemparkan tubuhnya ke kasur. Tak perlu menunggu lama, Mira segera tertidur pulas di kasurnya.
“ Mira!! Ayo bangun!” teriakan Mami Mira segera membangunkan Mira dari tidurnya.
“ Udah bangun kok Mi,” kata Mira dengan suara masih mengantuk.
“ Mira, ini udah jam enam.” Kata-kata Mami Mira segera menyadarkan Mira.
“ Aduh, mati gue. Udah jam enam.” Mira berlari mengambil seragam di lemarinya dan segera mandi. Lima menit kemudian, Mira sudah duduk di meja mekan melahap roti bakar buatan maminya.
“ Mir, kalo makan jangan buru-buru donk!” kata Papi Mira.
“ Wad..duh.. Pi. Kal..llo ga burru-burrru nntar ttellat,” kata Mira terbata di sela kunyahannya.
“ Belum ngerjain peer lagi kan?” Tebakan Papi Mira langsung mengenai sasaran.
“ Ng…nggak kok Pi. Tadi malem Ita sms, katanya suruh dateng pagi. Piket!” kata Mira, bahkan Mira terkejut dengan ucapannya sendiri.
“ Oh, tumben kamu mau piket, padahal kamar kamu itu udah kayak kapal pecah,” kata Papi Mira.
“ Pi, Mi, Mira ke kamar dulu, belum sisiran.” Mira lalu ke kamarnya. Mira menyisir rambutnya dengan asal dan menyambar semua buku pelajaran dan berlari mennuju mobilnya. Dengan asal Mira melempar buku-bukunya dan segera menstater mobil. Dengan dua kali bunyi klakson, Mira segera keluar dari rumah dan tancap gas ke sekolah.
SMA Bangsa 3. Begitu yang tertulis di tempat parkir Mira. Jam di tangan Mira sudah menunjukkan jam tujuh jurang sepuluh menit.
“ Peer miss killer belum gue kerjain lagi!!” Mira berlari-lari sambil membawa buku pelajaran di gendongannya. Untung kelas 11-3, kelas Mira tak terlalu jauh dari gerbang depan.
“ Ita!! Pinjem peer… Buruan!!” Mira menyambar buku Ita, teman sebangku sekaligus sahabatnya.
“ Aduh, loe itu ya! Kalo bangun jangan siang-siang donk! Tapi, semalem gimana? Menang ga?” tanya Ota smabil memperhatikan Mira yang sedang menyalin pr.
“ Menang donk. Eh iya, lawan guie semalem tu Reza, anak SMA sebelah.” Kata Mira. Tiba-tiba Ita langsung menepuk Mira.
“ Beneran Mmir. Gila loe, gue ga nyangka dia anak racer juga. Terus-terus…”
“ Aduh!! Kira-kira donk loe. Ya udah ga gimana-gimana. Cuma salaman, terus udah.” Kata Mira sekenanya.
“ Waduh, gue juga mau donk!!” kara Ita.
“ Ya udah, ntar malem loe ikut gue aja ke BRC,” kata Mira.
“ Waduh, gue kan ga boleh keluar malem. Tapi, demi Reza, oke deh gue ikut. Ntar gue bilang aja gue nginep tempat loe,” kata Ita sambil senyum-senyum.
“ Ntar sore, loe langsung aja ke rumah gue. Pulang sekolah gue mau ke markas dulu, ambil gaji,” kata Mira sambil masih menulis kilat di bukunya.
“ Oke deh!”
Setelah Ita selesai berbicara, bel berbunyi dan mereka mengukuti pelajaran seperti biasanya. Di SMA, ada beberapa orang yang tahu rahasia Mira selain Ita. Ada beberapa pembalap juga di sekolah Mira. Setahun lalu juag yang mengenalkan Mira pada dunia balap adalah teman Mira bernama Nathan. Dulu mereka sangat dekat dan bersahabat, tapi Nathan harus berhenti dari dunia balap karena kecelakaan tiga bulan lalu. Sampai tiga bulan lalu, pembalap andalan LR adalah Nathan, tapi karena kecelakaan itu, Nathan tidak punya kendaraan lagi untuk balap dan orang tua Nathan sangat melarang Nathan ikut kegiatan seperti itu lagi. Sejak kejadian itu, Nathan menjauh dari Mira dan dunia balap.
“ Hei Mir. Ini bagian loe,” Doni segera memberikan bagian Mira saat Mira datang ke markas siang itu.
“ Makasih Don. Oh iya, ntar malem ada jadwal ga?” tanya Mira seperti biasa.
“ Ada, geng Black Idea nantangin kita semalem, loe mau ikut ga ntar malem?” tanya Doni.
“ Ikut lah. Kan gue masih butuh duit,” kata Mira.
“ Yah elah Mir, loe kan anaknya pejabat, masak iya kagak di kasih duit,” kata Doni.
“ Bukannya gitu, tapi kalo gue bilang buat apa, ntar mereka ngelarang gue. Waktu gue ambil tabungan gue buat beli tu motor aja, gue diintrogasi abis-abisan.” Mira jadi teingat ketika papi dan maminya mengintrogasinya selama semalam tentang tabungan Mira yang berkurang banyak. Untung Mira bisa berkelit dengan mengatakan untuyuk memperbaiki mobilnya.
“ Mmmm…. Jadi orang kaya kok susah,” ledek Doni. Mira langsung menepuk bahu Doni.
“ Emang loe kira enak?? Udah ah, ntar malem gue ajak temen. Gue pulang dulu ya…” Mira lalu pergi dan segera pulang.
“ Mir, rutenya pake rute tiga. Ati-ati sama tikungan empat,” kata Doni memberi pengarahan. Mira sudah siap di atas motornya. Setelah pengecekan akhir, Mira bersiap di garis depan.
“ Mir, ati-ati,” kata Ita dari barisan penonton.
“ Tenang aja Ta, Mira udahn kenal rute tiga kok,” kata Doni menenangkan Ita yang dari tadi terlihat gelisah. Doni dan Ita sudah saling kenal karena mereka teman satu SMP.
“ Tapi Don…” Ita terlihat sangat gelisah.
“ Udah deh Ta, tenang aja,” kata Doni.
Balapan dimulai. Mira memimpin di awal. Tinkungan awal bisa dilewati Mira dengan mulus. Di tikungan dua, lawan Mira berhasil menyusul. Lalu salip-menyalip pun terjadi, Mira berhasil memimpin di tikungan tiga dan lawan Mira hampir menyusul Mira di tikungan empat, terpaksa Mira memeprcepat laju motornya meskipun Mira tahu resiko di tikungan empat sangat besar, dan benar saja.
Suara hantaman benda keras terdengar di tempat BRC tempat Ita dan yang lainnay menunggu. Ita terlihat sangat pucat dan hampir menangis.
“ Don, itu suara apa?” Ita dengan penuh kecemasan bertanya pada Doni.
“ Gue juga ga tau Ta. Bentar, biar gue cari tau.” Doni segera bergabung di krumunan LR.
“ Mira kecelakaan…” salah seorang anggota LR memberitakan berita itu. Doni segera menghampiri Ita yang sudah terkulai lemas.
“ Ta… Mira…” Doni tak sanggup berkata.
“ Mira… Mira baik-baik aja kan Don?” Ita sudah berurai air mata ketika bertanya.
“ Mending kita sekarang ke rumah sakit tempat Mira dibawa anak LR di tikungan empat,” kata Doni.
Di setiap tikungan memang selalu ada perwakilan geng yang berjaga untuk keadaan seperti ini. Oleh anggota LR, Mira segera di larikan di rumah sakit. Motor yang di gunakan Mira terlihat hancur berantakan menabrak dinding pembatas.
“ Ita, Mira kenapa?” tanya Mami Mira begitu sampai di rumah sakit.
“ Tenang dulu Tante, sekarang Mira baru diperiksa,” kata Doni. Ita tak sanggup menjawab karena berurai air mata.
Mami dan Papi Mira terlihat shok dan segera mencari tahu penyebab kejadian tadi. Doni menjawab apa yang ditanya orang tua Mira. Setelah mendengar cerita Doni, orang tua Mira terlihat sangat kaget. Selama ini, Mira telah membohongi mereka. Tak terasa air mata sudah menitik dari mata Mami Mira.
Sudah dua jam, tapi dokter di ruang ICU belum juga mengabarkan keadaan Mira. Oarng tua dan teman-teman Mira semua berdoa demi kesembuhannya. Lalu, pintu ruang ICU pun terbuka.
“ Bagaimana keadaan Mira Dok?” Papi Mira langsung bertanya.
“ Maaf Pak, anda keluarganya? Mari ikut saya,” dokter dan Papi Mira berbicara di ujung lorong. Lalu, tak lama kemudain Papi Mira kembali ke ruang tunggu.
“ Gimana Pi?” tanya Mami Mira.
“ Mira sudah melewati masa kritis…” kata Papi Mira yang di sambut bahagia oleh semua orang di ruang itu.
“ Tapi, bisa saja Mira mengalami cacat. Itu baru bisa kita ketahui setelah Mira siuman,” Papi Mira melanjutkan kalimatnya. Kini, semua orang terlihat kaget. Ita lalu menitikan air mata lagi.
Keesokan harinya, Ita menemui Doni.
“ Ini semua gara-gara Nathan…” Ita berkata tanpa ekspresi. Lagi-lagi Ita menangis.
“ Ta, loe jangan sakut-bautin orang yang gat au apa-apa donk. Emang, Nathan yang ngajakin Mira ikut LR, tapi kan dia ga bermaksud…” sebelum Doni menyelesaikan kalimatnya, Ita memotong kalimat Doni.
“ Nathan yang ngerencanain ini semua Don!! Kemarin waktu pulang sekolah, ga sengaja gue denger Nathan lagi ngobrol sama anak LR, mereka lagi ngerencanain sabotase motor Mira. Mereka nyabotase motor Mira!!!” ita berteriak tak terkontrol. Isaknya terdengar semakin keras.
“ Maksud loe… Nathan..” Doni sangat shok dan tidak percaya dengan yang didengarnya barusan. Selama beberapa saat keadaan hening.
“ Gue harus nemuin Nathan…” Doni berjalan menuju mobilnya. Emosi di dada Doni sudah tak terbendung.
“ Don… loe mau apa? Ga penting ngurusin dia, mending kita mikirin Mira,” Ita berusaha menahan Doni.
“ Gue harus ngomong sama Nathan!! Dia harus tanggung jawab!!” Doni berhhasil melepaskan genggaman Ita.
. “ Gue ikut…” Kata Ita setelah berhasil menahan isaknya.
“ Misi Tante, bisa ketemu Nathan,” kata Doni setelah sampai di rumah Nathan, Rumah Natahn sangat sederhana, dan baru saja yang membukakan pintu untuk mereka adalah Ibu Nathan.
“ Sebentar, biar tante panggilkan…” jawab Ibu Nathan ramah.
Doni dan Ita membuat kesepakatan untuk membawa pergi Nathan dari rumah, bagaimanapun, mereka tetap memiliki hati nurani dan tak tega jika harus melihat Ibu Nathan shok nantinya.
“ Kenapa nyari gue?” Nathan keluar dari rumah, menjawab dengan nada kurang sopan.
“ Ikut kita sekarang!” Doni berkata datar.
“ Ngapain gue ikut kalian?” Nathan masih berkelit.
“ Kalo loe emnag jantan, ikut kita sekarang!!” Ita membentak Nathan.
“ Oke gue ikut. Jangan kalian pikir gue takut gertakan kalian, gue cuma ga tega liat nyokap gue,” kata Nathan. Lalu mereka bertiga pergi. Awalnya, Doni tak tahu harus pergi kemana, tapi kemudain Doni memutar setirnya ke arah rumah sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit ada orang tua Mira yang masih menunggu Mira siuman. Mereka terlihat lelah dan pasti belum belum istirahat sejak tadi malam. Ita dan Doni dipaksa pulang oleh orang tua Mira, karena orang tua Mira tahu jika orang tua Ita dan Doni juga akan khawatir pada Ita dan Doni. Walaupun masih ingin menunggu di rumah sakit, Doni dan Ita tetap pulang karena menghormati orang tua Mira.
“ Tante, Om. Biar sekarang giliran kami yang jaga,” kata Ita kepada orang tua Mira. Mereka mengangguk percaya karena mereka sudah mengenal Ita sejak dulu.
“ Om dan Tante pulang dulu sebentar, mau ambil ganti baju. Nanti Om dan Tante balik lagi kesini,” kata Papi Mira. Setelah orang tua Mira pergi, Doni membuka keheningan di ruangan itu.
“ Liat Than, sahabat loe masih belum sadar, kenapa loe sama sekali ga khawatir?” kata Doni mencoba menahan emosi.
“ Mmaana guue ttahu…” kata Nathan terbata. Gugup.
“ Ga mungkin loe ga tahu!! Loe yang ngerencanain ini semua kan!!” emosi Ita tek terbendung dan langsung membentak Nathan.
“ Gue ga tahu!” Nathan membela diri.
“ Terus pembicaraan loe waktu itu?? Gue denger loe ngomong sama anak LR!! Semuanya!!” Ita membentak Nathan lagi. Nathan sama sekali tak menyangka, rencanya sudah terbongkar.
“ Ini bukan salah gue!! Ini salah dia sendiri,” bentak Nathan sambil menunjuk Mira.
“ Apa salah Mira?!?” sekarang Doni yang membentak Nathan.
“ Kalo bukan gara-gara dia, gue masih bisa main sekarang, gue masih bisa balap!! Tapi dia ngerusak motor gue dan gue kecelakaan!! Kalian tahu itu hah?!? Mira yang kalian banggakan itu pengecut!!” Nathan berteriak tak terkontrol.
“ Mira ga kaya gitu…” kata Ita.
“ Iya, Mira pengecut. Yang terakhir pake motor gue waktu itu Mira. Pasti dia yang udah sabotase motor gue!!” kata Nathan masih dengan nada marah.
“ Asal loe tau ya Than. Waktu itu Mira yang udah benerin motor loe. Loe tahu, anak geng lain udah nyabotase motor loe?? Mira tahu itu, dai langsung kasih tahu gua, dan kita benerin motor loe tanpa sepengetahuan loe!!” Doni membongkar rahasia Mira. Waktu itu, Mira berhasil memperbaiki motor Nathan sebelum Nathan main, tapi, ternyata geng lawan sudah memasang jebakan di salah satu tikungan waktu itu yang menyebabkan motor Nathan tergelincir. Jika saja Doni dan Ita tidak memperbaiki motor Nathan, bisa saja nasib yang lebih buruk akan menimpa Nathan.
“ Dan loe tahu, selama ini Mira ikut balap kaya gini kenapa? Dia mau gantiin motor loe. Dia udah ngumpulin uang sejak dia mulai menang balap.” Kata-kata Ota menyadarkan Nathan. Nathan lalu terduduk lemas. Menyesali perbuatannya.
“ Mira… dia udah nolong gue, tapi kenapa balesan gue…!!” Nathan menangis, tak kuasa menahan penyesalan.
Nathan terlihat snagat menyesal. Selama tiga hari, Natahn terus menjaga Mira dan…
“ Gue…” Mira membuka matanya setelah tiga hari.
“ Mir, loe dah sadar?” kata Nathan yang saat itu ada di sebelah Mira.
“ Mira…” orang tua Mira juga langsung menghampiri Mira.
“ Permisi, kami akan mengadakan pemeriksaan terlebih dahulu,” dokter sudah tiba dan segera memeriksa Mira.
“ Mira baik-baik saja kan Dok?” tanya Nathan.
“ Hasil pemeriksaan, Mira baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Dokter lalu pergi. Orang tua Mira langsung bersyukur dan menghampiri Mira.
“ Mi, Pi… Mira minta maaf ya…” kata Mira.
“ Mira nggak salah. Udah, sekarang Mira istirahat dulu, Papi sama Mami mau ngabarin keluarga dulu,” kata Mami Mira.
Di ruangan itu tinggal Nathan dan Mira.
“ Mir...” Nathan mau berbicara, tapi Mira langsunga memotongnya.
“ Than… gue minta maaf… kesalahan gue bayak sama loe. Gue belum bisa ganti motor loe,” kata Mira.
“ Mir, gue yang salah. Gue minta maaf sama loe…” Nathan tak kuasa menahan emosi, Nathan lalu menangis.
“ Loe kenapa Than??” Mira bertanya dengan wajah bengong.
“ Nggak papa kok,” Nathan mengusap air matanya dan tersenyum melihat wajah Mira.
Sejak saat itu, LR dibubarkan. Mira dan Nathan kembali bersahabat. Mira, Nathan, Ita, dan Doni bersahabat hingga mereka dewasa. Terkadang kebahagiaan memang harus didapat dari pengorbanan.
Sabtu, 01 September 2007
lagi2 tanya pantes pa gag??
kalian mungkin akan bertanya, untuk apa aku pergi. maka akan ku jawab, karena ini takdirku, sudah saatnya aku pergi dari dunia ini, menuju hidup yang kuharap lebih baik. jangan kau sesali kepergianku, karena setitik penyesalan akan membutakanmu akan kenyataan yang tersamarkan. jangan juga kau berpikir kemana aku akan pergi, karena arah langkah kakiku dan kemampuanku hidup kan membawaku ke arah yang jauh dan tak kan ada yang tahu. sebenarnya apa tujuanku?? aku pun tak mengerti, hanya saja hatiku mengatakan aku harus pergi.
aku memang pengecut. aku akui aku memang menghindar dari kenyataan. aku terlalu takut untuk menyadari kenyataan. aku terlalu bodoh untuk mencerna kenyataan. aku terlalu naif untuk menerima kenyataan. andai ada hal yang tak nyata di dunia ini, aku akan kesana.
mungkin besok aku sudah berada dalam perjalanku. di tempat yang ramai akan teriakan mereka dan tempat yang terlalu mengerikan untuk kau bayangkan, tapi aku yakin, suatu saat nanti akau akan diberi kesempatan untuk berkunjung dalam taman yang tenang, penuh tawa dan kebahagiaan. tempat itulah yang ku tuju, jauh memang, tapi aku yakin aku akan berhasil mencapainya. sekali lagi kuucapkan terimakasih kawan...
aku meneteskan air mata setelah untuk kesekian kalinya kubaca lagi surat yang kutulis. kembali aku teringat akan kenangan yang menguatkanku untuk segera menarik pelatuk yang pelurunya sudah siap menembus kepalaku. saat itu aku terduduk di sebuah bangku taman. aku sedang menanti dia, kawanku yang kupercaya dan selalu memberiku informasi terntang pria yang kusayang saat itu. kawanku mengatakan, ada banyak hal yang semu di dunia ini. kemudian ia mengatakan alasannya mengatakan itu. rupanya, seorang kawan telah bercerita padanya pula. kami sama, kami menyayangi orang yang sama. lalu kawanku mulai bercerita bagaimana buruk sebenarnya rupanya. kawanku megatakan, dia yang kusayang, adalah pembohong besar. pernah suatu hari, seorang kawan dibuat terbuai olehnya, sama dengan rayuan yang ia katakan padaku. aku tersontak dari kursi. aku katakan keraguanku pada kawanku. bukankan dia selalu baik pada kami? ia sekali lagi berkata, ada banyak hal semu di dunia ini. kawanku menawarkaku informasi yang lebih banyak, lalu dengan banyolanku ku katakan saj abahwa aku tak peduli akan hal itu, kami tertawa, tapi dalam tawa renyah kami, aku galau, aku resah memikirkan lagi keputusanku. aku sangsi akan segalanya sekarang.
sempat ku berpikir, kawanku hanya berbual dan mengatakan itu untuk kepentingannya, tapi kenapa?? bukankan ia kawanku yang seudah jelas kukenal?? aku tahu pasti tentang kawanku.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
dok...dok...
suara ketukan di pintu kamarku menyadarkanku dari lamunanku. segera ku sembunyikan surat dan pistolku. aku menghapus air mataku dan merapikan diriku. sempat kumelihat pada cermin di kamarku, lalu setelah aku yakin aku terlihat normal, aku membuka pintu. memang kamar kosku ini sering dijadikan tempat teman-temanku berkunjung.mereka sering menceritakan kesedihan mereka padaku. meraka berkata, aku cocok menjadi seorang psikolog karena banyak masalah yang bisa kubantu menyelesaikannya. Rupanya ** yang datang ke kosku sekarang. ** adalah wanita yang bisa dikatakan menarik, hanya saja ia kurang percaya diri, sehingga terkadang Ia harus meminta pendapatku untuk masalah pribadinya.
** berkata padaku bahwa ia merasa hidupnya sudah tak berguna lagi. ia baru saja dicampakan kekasihnya. aku berkata padanya bahwa di dunia ini tidah hanya ada satu pria. aku meyakinkannya bahwa suatu hari nanti pasti akan ada pengganti kekasihnya.
selama hampir satu jam kami berbincang, kemudian ia menghapus air mata terakhir yang menetes di wajahnya. aku mengantarnya sampai depan gerbang kosku. setelah melepas kepergiannya, lalu salah seorang wanita yang kukenal sebagai tetangga kosku sedang menangis. kuhampiri ia dan ku tanya ada apa. ia menjawab dengan tersenyum bahwa ia tidak apa-apa dan baru saja mengantarkan kepergian orangtuanya untuk kembali ke kampung halaman. saat itu aku tiba-tiba teringat pada keluargaku, dan aku pun mnyadari betapa ku merindukan mereka.
setelah aku kembali ke kamar, kurenungi lagi keputusanku. aku membaca surat ini berkali-kali. kemudian salah seorang tetangga kosku mengabarkanku tentang kedatangan seseorang, rupanya salah seorang temanku datang.
ia mulai bercerita padaku, ia sangat mendukungku untuk segera lebih dekat pada ia yang kusayang. lalu aku menceritakan yang tlah kudengar dari kawanku, tapi ia berkata bahwa dia yg ksyg adalah prang yang baik, aku menjadi ragu, sebenarnya siapa dia?? bagaimana dia yang sesungguhnya.
setelah temanku pergi, aku kembali ke dalam kamar. lagi-lagi aku bingung, aku berupaya berpikir lagi tentang kaputusanku. aku meletakkan tanganku di atas pelatuk, lalu aku mengarahkannya pada kepalaku. aku memejamkan mataku. tiba-tiba bayangan keluargaku, kawanku, temanku terlintas dalam pikiranku. aku membuka mataku lagi. meletakkan pistol ke atas kasurku. menangis sejadi-jadinya. aku penat... aku lelah.. benar-benar tak tahu apa yang terjadi, aku berlari ke luar. aku terus berlari tak mempedulikan keadaan sekitarku. aku berlari sekuat tenagaku, lalu yang terakhir kudengar adalah suara teriakkan orang-orang.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Bagusnya.. endingnya 'aku' mati pa idup..
kalo mati begini endingnya :
- lalu aku terbangun dan sadar aku tak lagi menapak. aku tak lagi nampak dan aku melihat badanku.. hancur! aku tersedu melihatnya. truk yang tadi sempat melindas tubuhku sudah pergi meninggalkan jejak darah. aku bersimpuh, memohon ampun pada-Nya.
badanku sudah terbaring kaku. ayah dan ibuku menangis di sebelah mayatku, tanpa mereka sadari.. akupun menangis diantara mereka. jiak ini akhirnya, kenapa tadi tidak kutarik saja pelatuknya? bukankah sama, aku juga akan terbaring seperti itu. dalam raunganku, lalu muncul suara yang mengatakan padaku bahwa ini adalah takdirku, dan ini jauh lebih baik daripada jika keputusanku untuk menarik pelatuk kulakukan.
tiga minggu dari kematianku, keluargaku mulai membereskan barang-barangku di kos. lalu, hal yang kutakutkan terjadi, ibuku menemukan pistol dan suratku. ibuku lalu menangis bersimpuh. ibuku berlutut dan menangis lebih keras dari sebelumnya. lalu setelah ayaku tahu perkara ini, ia berkata pada ibuku bahwa kecelakaan itu lebih baik daripada pistol ini yang menghilangkan nyawaku. aku tersenyum. mengetahiu bahwa kematianku karena kecelakaan ini lebih baik dari pada aku membunuh diriku dengan tanganku sendiri. terimakasih Tuhan atas takdirmu. kini misteri pun terkuak. aku mengetahui dengan pasti bahwa dia pun menyayangiku. tapi, ada wanita lain yang kini membantunya mengarungi hidupnya. aku bahagia...
nah, kalo akhirnya hidup..
- sesaat aku mengerjapkan mataku, meliaht kesekelilingku. bau ini sudah dapat dipastikan bau rumah sakit. aku meneteskan air mata, bersyukur pada-Nya karena aku telah diberi kesempatan untuk kembali menghirup udara di bumi ini dan juga karena telah menyadarkanku bahwa sebenarnya aku takut kematian.
ayah dan ibuku langsung menghampiriku mereka bersyukur akan kehidupanku. mereka menangis. meraka memberitahuku bahwa aku sudah tertidur selama tiga hari. mereka juga menceritakan kejadian itu dengan pasti. saat sebuah truk meyerempetku, aku terpelanting. lalu ada seorang pria yang langsung berlari menyelamatkanku. dia yang membawaku ke rumah sakit, jika saja pria itu tak segera membawaku kesini, bisa saja aku telah tiada. saat ibuku mengatakan nama pria itu, aku tersontak! dia yang kusayang telah menyelamatkan hidupku.
setelah orang tuaku mengabarkan keadaanku, teman-temanku mulai berdatangan. mereka semua menghawatirkan aku. aku pun bahagia mengetahui banyak orang yang peduli padaku.
sore hari, saat matahari mulai terbenam, dia yg ksyg datang menjengukku. tapi dia tak sendiri. dengan erat dia menggenggem tangan sorang wanita, aku yakin bahwa wanita itu adalah kekasihnya. benar saja, lalu dia memperkenalkan gadis itu padaku. entah mengapa aku bahagia. aku sangat bahagia meliat mereka seperti ini. aku rasa gadis ini lah yang terbaik baginya.
akhirnya, setelah keadaanku pulih, aku diperbolehkan pulang. untung saja orang tuaku belum masuk ke dalam kamar kosku.
kini aku berdiri di pinggir sebuah sungai. aku merobek-robek surat yang pernah kutulis waktu itu. pistol yang hampir menghilangkan nyawaku juga telah kurusak. lalu aku melemparkannya dalam arus sungai yang deras. aku melihatnya sampai akhirnya tak terlihat lagi. aku tersenyum dan aku yakin aku siap menghadapi hidup ini jauh lebih baik sebelumnya. terimakasih Tuhan..
------------------------------------------------------------------------------------------------
JADI??
tulisan ini kutulis sesuai dengan arus tanganku. sama sekali bukan dibuat-buat..
* aku pun tak mengerti *
apa yang kurang??
Kamis, 30 Agustus 2007
Medh... crbh!!
- Kehabisan bensin... ( bulan Agustus ini udah 2X )
- Ngilangin barang2.. ( salah satu Harpotnya Zahra )
- Ketinggalan barang penting.. ( kunci UKS, buku, dompet, dll )
- Suka stres sendiri.. ( waduh,, udah sindrom e.. can’t work under press )
- Uring2ngan ga jelas.. ( kata orang, salahkan pms,, walaupun ga salah )
- Sok banget.. ( Cuma ngerasa sok tau aja )
- Bisa kehilangan akal sehat kalo lagi gila!! ( sperti melajukan motor sampe motornya bunyi tek-tek-tek..)
- Menjadi bodoh..( kalo emang dasar e,, njuk piye )
- Suka tiba2 kangen sama mreka ( Isma, Bayu, kawan2 di Bogor, kucing2Q, Diia, teman2Q.. smuanya lah )
- Pengen mnangis karna mrasa sebal.. ( pada diri sendiri)
- Hopeless banget..( kalo lagi liat diia sama cwe laen)
Lalu2,, bagaimana caranya biar medh tak mengulaginya lagi???
Inspirasi...kemana kaw pergi???
Aku sedang berjalan di lorong sekolah ketika sahabatku, Andin memanggilku.
“ Ila...tungguin donk.”
“ Buruan...” Andin lalu berlari menghampiriku,” kenapa sih?”
“ Nggak papa, cuma mau bareng aja,” kata Andin, masih dengan napas yang tersengal.
“ Oh, kirain ada apaan.”
“ Eh iya, kamu ikut panitia gelar seni kan?” tanya Andin.
“ Ikut, emang kenapa??”
“ Nggak papa, tanya doank.”
Lalu,, apa selanjutnya??
Medh kehilangan inspirasi...
Pantes Ga???
Tidak jauh rumahku dari pinggir Sungai Ciliwung. Daerah ini memang sudah terkenal kumuh. Aku sendiri hanya orang bisu yang tidak berguna. Aku bisu sejak dilahirkan. Lucu sekali, aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku. Kata orang dari panti asuhan yang dulu merawatku, aku terbawa arus sungai saat hujan deras.
Sekarang aku sudah dewasa. 23 tahun, sudah cukup dewasa untuk menukah, tapi aku yang hanya lulusan SMALB tidak pernah berani mendekati wanita. Walaupun aku adalah lulusan terbeik dan kata mereka aku tak kalah pintar dengan orang normal, aku tetap tidak berani untuk melamar pekerjaan. Bagaimana bisa, apa yang akan kukatakan saat aku tes wawancara. Sedih memang. Tapi kesedihan itu sudah menjadi makananku sehari-hari.
Sudah sampai aku di rumahku. Tumpukan kardus dan atap dari seng bekas inilah yang kusebut rumah. Kutaruh lukisan ini di dekat tempat tidurku, taksalah lagi, tempat tidurku juga tumpukan kardus yang kugunakan sebagai alas.
Tak sadar berapa lama aku melihat lukisan itu. Aku merasa semakin aku melihatnya, aku semakin suka dan sepertinya ada daya tarik yang tersimpan dibalik lukisan itu.
Lukisan dengan latar belakang berwarna putih dan dibalut dengan warna kebiru-biruan itu menggambarkan seekor anjing yang sedang marah dengan potongan tulang di dekat kakinya. Mungkin ini salah satu penyebab aku sangat tertarik dengan lukisan itu. Anjing itu juga tak suka diganggu apalagi saat sedang makan seperti itu. Aku tahu perasaan anjing itu. Aku juga terlalu sering dimaki karena aku mengambil makanan bekas yang sudah dibuang di tempat sampah. apa salahku? Aku hanya mengambil sesuatu yang sudah tak berguna bagi mereka.
Sudah larut rupanya. Aku tak punya jam, jadi aku hanya bisa memperkirakan waktu dari matahari. Suara adzan maghrib terdengar cukup keras di telingaku. Segera kusambar sarungku yang sudah sangat lusuh itu dan segera ke masjid di dekat rumahku. Aku mengambil air wudhu dan segera ikut shalat berjamaah dengan yang lainya. Di masjid inilah aku merasa sangat tenang, walau tak mewah seperti masjid Baiturrahman yang pernah kulihat di tv tetanggaku, aku sangat senang berada di tempat ini.
Selesai shalat, aku tidak pulang. Seperti biasa aku menunggu di masjid untuk mengikuti shalat Isya. Sesekali aku mengambil Al-Quran di masjid in iuntuk kubaca. Tapi kali ini aku ingin merenung tentang lukisan itu. Sebenarnya apa yang ada dibalik lukisan itu. Aku mengutarakan isi hatiku pada Sang Khalik. Saat aku sedang merenung tibe-tiba kulihat seeorang yang sedang bertanya kepada salah satu jamaah masjid. Aku tertarik mendekatinya karena sepertinya dia sangat kesusahan. Walalupun aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku ingin sekali membantunya.
Sekilas aku merasa dia terus memperhatikanku dengan tatapan mata yang cukup aneh, tapi saat kulihat tanganya membawa tongkat yang terbuat dati kayu aku menyadari bahwa dia memiliki kerusakan pada matanya.
” Pak, apa Bapak benar-benar tidak tahu ada lukisan yang hanyut,” katanya dengan suara yang bergetar.
” Maaf mas, saya benar-benar tidak tahu,” kata orang yang ditanyanya.
Spontan aku menyadari, lukisan yang kubawa itu miliknya. Bagaimana ini, aku ingin mengatakan kepadanya tetapi aku tidak bisa bersuara. Aku menepuk pundaknya dan dia memandangku. Aku mencoba menuliskan huruf isyarat di tanganya dan berhasil. Dia mengerti apa yang kutulis. Aku menulis ’ maaf, sepertinya saya tahu lukisan kamu’. Dia langsungmenjawab ” Benar itu mas? Terimakasih ya mas, bisa antar saya ke tempat lukisan saya?” tanyanya. Aku menulis lagi ’bisa’.
Selama perjalanan, dia bercerita banyak tentang dirinya. Rupanya dia mengidap penyakit mata yang sangat parah. Dia hampir buta, tapi masih bisa melihat, itupin dengan jarak yang sangat dekat. Maka dari itu aku pun mengerti bagaimana perasaanya saat tahu lukisanya hilang.
Aku juga bercerita tentang diriku. Aku banyak menulis ditanganya, kadang dia mengangguk arti mengerti. Entah mengapa aku merasa cocok denganya. Laki-laki ini sepertinya sebaya denganku. Saat aku menceritakan pengalaman saat sekolah, dia berkata padaku,” Jangan-jangan mas ini Mas Rizal ya?”
Aku kaget, bagaimana dia bisa mengetahui namaku. Saat itu dia tersenyum.
” Mas, saya juga bersekolah di SMALB tempat mas belajar. Saya sangat ingin bertemu dengan mas,” katanya. Sudah sampai rumah, aku mempersilakanya masuk. Didalam rumah aku bertanya padanya, mengapa dia ingin bertemu denganku.
” Maaf mas, saya lupa. Saya Arif, adik kelas mas. Waktu itu saya banyak mendengar tentang seorang laki-laki yang sangat cerdas. Mungkin mas satu-satunya murid yang dilepas oleh sekolah hanya dalm waktu tiga tahun, saya sendiri lima tahun beru bisa lulus,” katanya. Ada perasaan bangga dihatiku.
” Mas, saya itu sangat mengidolakan mas lho, bahkan lukisasn itu sebenarnya saya buat unutk mas. Maaf ya mas kalo mas tersinggung saya gambar dengan umpama anjing, tapi maksud saya sebenarnya adalah melukiskan perjuangan mas untuk melawan segala keterbatasan dan kekurangan. Dari lukisan itu dapat digambarkan bagaimana perjuangan mas untuk hidup. Saya sudah mendengar kisah mas. Dan saya sangat bangga atas perjuangan mas. Sejak lahir mas pun sudah berjuang dengan untuk bertahan hidup di sungai. Benar-benar mengagumkan,” katanya panjang lebar.
Aku menulis ’tidak, aku sama sekali tidak tersinggung, bahkan aku terharu karena ada orang yang mengagumiku’. Tak terasa ada sebutir air mata haru yang mengalir dari mataku.
” Rupanya lukisan ini telah smpai padamau, kalu begitu aku bahagia mas,” katanya.
Aku menulis banyak terimakasih padanya. Sejak saat itu, entah aku sadari atau tidak aku jadi mengaguminya.
” Oh ya mas, mas mau ga tinggal di rumah saya?” tanyanya. Perasaan senang sempat menghampiriku, tapi aku sudah terlanjur mandiri dan tidak ingin menyusahkanya. Aku menolaknya. Dari raut wajahnya aku bisa melihat kesedihanya.
” Mas, saya mohon,” katanya memohon. Tapi aku tetap menolak.
” Gini aja mas, kalo mas ga betah tinggal di rumah saya, mas bisa pergi, tapi tolong selama seminggu ini mau ya nginep di rumah saya,” katanya. Aku hendak menolak, tapi saat kulihat ketulusan di matanya, aku pun terenyuh. Aku menerima ajakannya.
Adzan Isya sudah terdengar, aku mengajaknya shalat, tapi ternyata dia non-Islam. Aku memintanya menunggu di masjid selama aku shalat. Selesai shalat aku membantunya membawa lukisan itu dan berjalan menuju rumahnya. Rupanya sudah ada mobil yang menunggu kami di depan gang yang menuju perkampunganku.
” Mari kak masuk,” kata Arif mempersilakanku masuk mobinya.
” Ayo pak berangkat,” kata Arif pada sopirnya.
” Iya mas,” jawab sopir iru padanya.
Di dalam perjalanan banyak sekali ceritanya padaku. Bagaimana dia pertama kali mengenalku. Bangga rasanya. Rupanya Arif mengenalku saat aku dipanggil untuk menerima trophy hasil kemenanganku pada lomba sains khusus SLB.
Masih tersimpan jelas di memoriku saat aku dipanggil maju dan menerima hadiah dari sekolah. Mungkin trophy itu masih ada di rak kepala sekolah saat ini.
Arif melanjutkan ceritanya. Bagaimana dia bisa sampai terinspirasi olehku hingga bisa menyelesaikan sebuah lukisan yang kutemukan tadi sore
dst,,dst,,
pantes ga ya kayak gini dikirim buat lomba cerpen???
